Oknum Banit Reskrim Kota Agung Ancam Wartawan Dengan Senpi. FPII Minta Propam Jerat Hukum Sesuai UU
Persekusi Pers

By Aministrator 19 Mei 2019, 22:13:40 WIB Daerah
Oknum Banit Reskrim Kota Agung Ancam Wartawan Dengan Senpi. FPII Minta Propam Jerat Hukum Sesuai UU

Keterangan Gambar : Ketum FPII & Anggota Insan Pers Mengecam Keras


Arus Lampung. Pers sebagai pilar ke 4 dari demokrasi suatu bangsa seharusnya mendapat tempat yang layak juga penghormatan dari semua lini profesi yang ada di negara ini. Namun ironisnya hal ini tidak dilakukan di negara yang konon menjunjung sebuah Demokrasi yang tinggi.

Wartawan Harian Detik Tanggamus,  Dian Saputra (25), dia sebagai warga Pekon Terbaya, Kecamatan Kota Agung, Kabupaten Tanggamus, masih trauma. Dia minta kasusnya di proses secara hukum. Karena, selian di aniaya, dicekik dan di caci maki. Dian juga berkali kali ditodong senjata api pistol oleh oke oknum Kanit. Reskrim Polsek Kota Agung Brigadir. Pol Edwin Renando.

Disampaikan Dian Saputra dirinya tidak mengenal oknum polisi yang bertugas sebagai Banit Reskrim Polsek Kota Agung itu. Karena memang tidak ada hubungan dengan oknum polisi. Kronologis kejadianya pada Rabu (15/5/2019), saat dirinya berada di ruang Kantor SDN  2 Pasar Madang, Kota Agung dalam rangka menjalankan tugas Jurnalis , tiba - tiba oknum kepolisian Polsek Kota Agung datang dan langsung melontarkan kata-kata kasar hingga menganiaya dan mengancam dirinya.

Dian menerangkan selain, melontarkan kata -  kata kasar  yang tidak pantas dikeluarkan oknum polisi tersebut. Berulang kali oknum tersebut menodongkan senjata api ke arah nya.

“Wooyy  ! beruuk kamu hah !  babi kamu !! Saya tembak kamu nanti ya, dengan mengarahkan senjata api berupa pistol pribadinya " jelas Dian menirukan ucapan oknum polisi tersebut.
" dan penodongan pistol tersebut dilakukan nya beberapa kali " ungkap Dian.

Selain menodongkan senjata api oknum polisi tersebut mencekik Dian .

"Saya Ando, Kapolsek kota Agung, anaknya Jupri " ucap Dian saputra menirukan ucapan sang polisi.

Menurut nya Kepala sekolah SD 2 Pasar Madang Rosminati, kemungkinan  mengadu ke oknum polisi tersebut terkait kedatangannya untuk melaksanakan tugas jurnalis . Sehingga dia ( kepala sekolah )  bersama keluaraga besar termasuk oknum polis itu melakukan pengeroyokan ke Dian.

Terkait perbuatan tersebut , Aminudin selaku Ketua Sekretariat Wilayah (setwil) Forum Pers Independent Lampung (FPII)  mengutuk keras kekerasan dan pengancaman pembunuhan dengan senjata api yang telah dilakukan oknum polisi tersebut.

Hal ini disampaikan Aminudin kepada beberapa awak media di kantor Setwil FPII Provinsi Lampung di jalan Untung Suropati Nomor 45 Bandar Lampung, Ahad (19/5/2019)

Selanjutnya Aminudin meminta kepada Propam Polres kabupaten  Tanggamus untuk  segera menindak lanjuti dari laporan pengaduan Dian Saputra dan segera memproses hukum terhadap oknum kepolisian polsek Kota Agung bernama Brigadir.Pol Edwin Renando dan kepala sekolah Rosminiati, serta menarik ijin penggunaan senjata api oleh oknum polisi tersebut.

Sebelumnya Dian tidak terima dimaki maki, dicekik dan diancam oleh oknum anggota Polisi, Bintara Unit Reskrim Polsek Kota Agung,  Polres Tanggamus, Wartawan Harian Detik Tanggamus,  Dian Saputra (25), melapor ke Propam Polres Tanggamus, Rabu (15/5) sekitar pukul 13.00.

Dalam laporan ber nomor STPL/ 02 IV/ 2019 Korban atas nama Dian Saputra, Wartawan Harian Detik Tanggamus, warga Pekon Terbaya, Kecamatan Kota Agung, Kabupaten Tanggamus melaporkan tentang terjadinya peristiwa pelanggaran yang diduga dilakukan oleh Anggota Polri atas nama Brigpol Edwin Rendo,  Jabatan Banit Reskrim V Kota Agung Polres Tanggamus.

Menurut Amingudin Pihak penegak hukum dapat  menjerat oknum polisi tersebut dengan pasal berlapis antara lain KUHP pasal 335 tentang perbuatan tidak menyenangkan, pasal 351 terkait penganiayaan, serta undang - undang darurat No 12 Tahun 1951 dengan ancaman hukuman mati, seumur hidup atau minimal 20 tahun Penjara.

Selain itu oknum polisi koboy tersebut bisa dijerat dengan Undang - undang No 40 Tahun 1999 tentang PERS. Dalam ketentuan pidana pasal 18 UU no 40 Tahun 1999 dikatakan , setiap orang  melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang dapat menghambat  atau menghalangi Jurnalis  untuk mencari dan memperoleh informasi dapat dipidana dengan pidana kurungan 2 ( dua ) tahun penjara atau denda Rl 500.000.000,- ( lima ratus juta Rupiah ).
Red




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Loading....



Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Google+, Linkedin dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Jejak Pendapat

Siapakah Calon Presiden Pilihan anda 2019?
  Prabowo - Sandi
  Jokowi - Maruf Amin

Komentar Terakhir

  • Robby Prihandaya

    Komentar paling pedas Khamenei adalah Iran tidak pernah mengenal Israel. Negara ini juga secara ...

    View Article
  • Tommy Utama

    Para pengunjuk rasa membawa bendera-bendera Palestina dan foro-foto pemimpin tertinggi ...

    View Article
  • Robby Prihandaya

    Anda penyuka Transformer? Tentu hal yang paling menarik saat menonton film Transformer salah ...

    View Article

Video Terbaru

View All Video